-->

Kisah Ashabul Kahfi Tertidur 309 Tahun (Lengkap)

Cerita kisah dalam seri kali ini akan mengisahkan tentang pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang tidur dalam gua ratusan tahun lamanya. Dahulu kala, jauh sebelum Islam datang, terdapat raja di masa pemuda ashabul kahfi yang bernama Dikyanes (Decius). Raja yang lalim, tidak memperkenankan penduduknya menyembah Allah. Ia menghukum orang-orang yang tidak patuh perintahnya untuk menyembah berhala, seluruh penduduknya wajib menyembah berhala. Tersebutlah pula enam orang pemuda yang tinggal di Depsous bersama anjing menyembunyikan imannya dari raja yang lalim itu. Nama-nama pemuda tersebut, yang selanjutnya disebut dengan pemuda ashabul kahfi, yaitu Mukaslamina, Yamlikha, Mortunes, Kastones, Byrunes, dan Kolaus, satu lagi anjing mereka yang bernama Humran.
"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk". (QS. al-Kahfi 18:13)
Pada hari raya, semua penduduk diperintahkan untuk menghadiri upacara ritual penyembelihan kurban untuk berhala-berhala yang mereka sembah. Hari raya ini mereka adakan setiap tahun sekali. Enam orang itu awalnya tidak saling mengenal, mereka menyembunyikan imannya sehingga mereka tidak mengikuti hari raya itu. Namun mereka khawatir raja Dikyanes mengetahui perbuatan mereka dan bila ia mengetahuinya pasti Dikyanes akan menghukum mereka. Maka datanglah salah seorang dari mereka ke tempat yang jauh dari desanya, dan duduk bersandar di pohon, lalu tibalah pemuda yang lainnya duduk pula di pohon itu. Bertanyalah pemuda itu mengapa ia tidak menghadiri hari raya itu, maka diberitahukan bahwa ia beriman hanya kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Dan ia pun balik bertanya kepadanya, dan dijawab dengan jawaban yang sama. Kemudian datanglah berikutnya yang ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ketujuhnya adalah anjing mereka.

 Cerita kisah dalam seri kali ini akan mengisahkan tentang pemuda Kisah Ashabul Kahfi Tertidur 309 Tahun (Lengkap)

Ashabul Kahfi vs Raja Lalim

Kesemuanya menyampaikan bahwa mereka menyembunyikan imannya masing-masing dari raja Dikyanes dan mereka beriman kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan mereka sama, menghindari kekejaman penguasa Dikyanes yang lalim. Oleh karena itu mereka bersepakat untuk keluar dari kota agar mereka dapat menyelamatkan diri dari kedzaliman sang raja. Allah menceritakan:
Apakah kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) roqim (anjing) itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan "(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". (QS. al-Kahfi 18:9-10).
Maka berangkatlah mereka ke sebuah gua yang disebut ar-Roqim. Di tengah perjalanan mereka dikejar oleh pasukan raja, dan mereka masuk ke dalam gua sambil menunggu keadaan aman. Di gua itu mereka beristirahat setelah berjalan sekian lamanya. Anjingnya menunggu di pintu gua menjaga mereka kalau-kalau ada orang datang ke tempat itu dan menjaga pintunya agar tidak ada binatang buas masuk ke dalamnya. Setelah mereka selesai merekapun saling bercengkerama, perkataan mereka terjadi antara mereka, yang timbulnya karena ilham Allah.
"Dan kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran". Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim dari pada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmatNya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu". (QS. al-Kahfi 18:14-16)

Tinggal dan Tidur dalam Gua selama 309 Tahun

Setelah selesai bercengkerama maka Allah menidurkan mereka selama 309 tahun perhitungan bulan. Ini merupakan kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada umat manusia, bahwa kuasaNya tidak ada sekutu bagiNya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
"Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu (maksudnya Allah menidurkan mereka, sehingga mereka tak dapat dibangunkan oleh suara apapun). Kemudian kami bangunkan mereka agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)". (QS. al-Kahfi 19:11).
"Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur, dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi ketakutan dengan ketakutan terhadap mereka". (QS. al-Kahfi 18: 18).
Dan ketika mereka bangun, mereka tidak melihat anjing yang menemani mereka, mereka hanya menemukan anjing itu telah menjadi tulang-belulang. Seolah-olah tidak percaya mereka mengira bahwa barangkali itu tulang-belulang binatang yang mati diterkam binatang buas tanpa sepengatahuan mereka. Karena mereka itidak menemukan anjing itu, dan mereka melihat bahwa tulang-tulang itu tidak lain anjing mereka sendiri. Maka mereka pun berselisih sudah berapa lama mereka tertidur di gua itu.
"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Sudah berapa lamakah kamu berada (disini)? Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (disini). Maka suruhlah salah seorang diantara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hartamu kepada seorang pun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melemparkan kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya". (QS. al-Kahfi 18:19-20).
Perut mereka pun telah terasa begitu laparnya, dan mereka mengutus salah seorang dari mereka untuk mencari pasar agar mereka dapat mengisi perut mereka untuk perjalanan berikutnya. Pergilah salah satu dari mereka ke pasar dan menemui penjual-penjual yang tidak pernah mereka kenali lagi.

Ketika orang itu membayar belanjaannya dengan uang miliknya, para penjual di pasar itu melihat terheran-heran dengan orang itu. Ia pun tidak kurang terkejutnya karena para penjual itu tidak mengenal uang yang dibelanjakannya itu. Tetapi ketika seorang pedagang mengetahui bahwa uang yang dibelanjakan pemuda itu adalah uang antik yang diperbincangkan di istana, maka berteriaklah pedagang itu: "Pemuda ini telah menemukan harta karun".
"Dan demikian pula Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya". (QS. al-Kahfi 18:21).
Di antara mereka yang tahu menyebutkan bahwa uang itu berasal dari kerajaan yang telah punah 300 tahun yang lalu. Dan uang yang mereka pakai untuk berbelanja tentu saja tidak diketahui oleh orang biasa. Karena antiknya barang itu maka sampailah kabar itu kehadapan raja. Dan diutuslah para pengawal untuk menjemput para pemuda itu menghadapnya. Bukan main terkejutnya, pemuda itu setelah diberitahu bahwa raja yang memerintah mereka telah tiada sekitar ratusan tahun lamanya. Sementara mereka baru bangun dari tidurnya.

Akhirnya, ramailah kejadian itu di pasar, dan melaporkannya kepada raja. Raja yang memerintah saat itu, tidaklah lalim, seperti raja yang pernah memerintahnya. Akhirnya, diperintahkanlah oleh raja kepada pasukannya untuk menjemput para pemuda itu ke istana menghadap raja.

Mereka menceritakan kejadian sebenarnya kepada raja. Raja pun akhirnya menceritakan tentang perubahan-perubahan terjadi selama ia tertidur dalam gua tersebut. Sehingga tahulah bahwa mereka telah tertidur selama tiga ratus tahun lamanya. Allah memberitahukan:
"Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)" (QS. al-Kahfi 18:25).
Melihat kebesaran Allah yang ditunjukkan kepada para pemuda itu, maka bertambahlah imannya kepada Allah. Dan raja menyuruh rakyatnya untuk beriman kepada Allah dan beriman akan datangnya hari akhir. Pada zaman itu, orang-orang ragu terhadap Hari Kiamat dan Hari Kebangkitan. Dengan kejadian itu, ramailah orang membicarakan benarkah hari kiamat akan terjadi atau tidak? Apakah kebangkitan pada hari kiamat dengan jasad atau roh ataukah dengan roh saja? Maka Allah mempertemukan mereka dengan pemuda-pemuda ini untuk menjelaskan bahwa hari kiamat itu pasti datang dan pembangkitan itu dengan tubuh dan jiwa.
"Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tak akan mendapat seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." (QS. al-Kahfi 18:17)
Gembiralah hati para pemuda itu menemukan raja yang bijak itu, dan betapa gembira hati mereka karena telah membuktikan kepada rakyatnya bahwa kebenaran Allah pasti datang. Hari Kiamat pasti tiba dan hari kebangkitan pasti dan nyata. Kemudian raja memerintahkan rakyatnya untuk menghormati mereka dan membangun sebuah masjid di gua tempat mereka tertidur ratusan tahun lamanya.
"Orang-orang itu berkata: "Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka" Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya". (QS. al-Kahfi 18:21).
Raja pun bertanya apa yang akan mereka minta setelah mengetahui bahwa mereka telah hidup sekian lamanya. Mereka berbincang satu sama lain, dan pada akhirnya memutuskan untuk memohon kepada Allah agar menerima imannya dan segera mewafatkan mereka.

Tidak lama waktu berselang, para pemuda itu meninggal dunia. Dan raja membangun tempat ibadah di gua yang telah mereka gunakan untuk bersembunyi itu, sebagai kenangan bagi mereka yang mempertahankan keimanannya dari seorang raja yang lalim.

Setelah sekian lama Ashabul Kahfi tiada, orang-orang Israil berbeda pendapat mengenai jumlah mereka, maka Allah memberitahukan kepada orang-orang yang beriman agar kaum muslimin jangan berselisih pendapat tentang mereka dan mengimani apa yang telah disampaikan rasulNya. Allah berfirman:
"Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (maksudnya ahli kitab pada zaman nabi Muhammad) (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: (jumlah mereka) adalah lima yang keenam adalah anjingnya", sebagian terkaan terhadap barang yang gaib, dan (yang lain lagi) mengatakan: "(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka, tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka". (QS. Al-Kahfi 18:9-22).
Dengan ayat ini jelaslah bahwa jumlah mereka adalah rahasia Allah yang sengaja disembunyikan agar manusia beriman pada yang ghaib, sebagaimana Allah menunjukkan Ashabul Kahfi sebagai bukti datangnya Hari Kiamat dan Hari Kebangkitan, niscaya akan datang, dan Allah Maha Mengetahui.
LihatTutupKomentar