-->

Mendung Diatas Mandaraka (5)



Sejuknya tempat berteduh membuat para panakawan terlena duduk terkantuk. Sementara Pamadi sendiri duduk berdiam diri. Semar yang tidak tahan dengan suasana beku kemudian memanggil salah satu anaknya. “Tole, Nala Petruk . . . “

Petruk yang dipanggil tertawa kecil kemudian katanya, “Aku bilang, ini bukannya keliru, tapi ini disengaja. Apa ada, Nala kok Petruk. . . . . ?!”

“Biar saja, yang kasi nama situ, yang ngerusak ya situ. Biarkan saja!” Gareng ikut ikutan menjawab dengan ketus, “Kalau orang tua yang tau tuanya, mestinya harus mengerti segala tingkah tanduk, dan suaranya juga harus mengikut irama, tidak gegabah dengan suaranya. Dulu siapa yang memberi nama kita ini. Pastilah bapak kita, Kyai Semar. Nala Gareng sudah tepat buat aku. Nala Gareng itu nama yang bener,  sampeyan ini maunya gimana to Ma? Kalau yang dipindah cuma nama saja boleh-boleh saja, kalau rumahkuyang dipindah  juga nggak apa apa. Nah kalau yang dipindah istriku, gimana coba”. Gareng mencoba protes ke Semar

“Lha kalau yang dipindah istrimu, apa aku sudi begitu Kang? Jangan mengukur aku dengan ukuran kamu. Aku itu kalau bukan orang yang  “mbudaya”, enggak kok. Kalau aku bilang enggak kalau bukan yang kinyis-kinyis, seperti bidadari yang menjelma manusia” Petruk yang tidak enak sama Gareng menjawab. Gareng diam.
“Toleee . . . , Kanthong Gareng”.

Petruk maklum, maka ia menjawab panggilan bapaknya walaupun itu salah. “Yahh, apapun itu, aku mau jawab. Sebab yang kasih nama situ kok. Biasanya kalau enggak dituruti, nanti trus marah. Jadi, bener aku turuti, salah juga aku ikuti, kalau sudah terpojok dia bakal mati kutu!!”. 

“Orang tua kok maunya diasuh! Apa ada yang seperti kyaine itu”. Gareng yang belum hilang mangkelnya kembali nyerocos. “Seharusnya yang diasuh kan kita ini. Apa-apa bisik-bisik jangan bilang ke ibumu. Penyakit menempel. Nggak sampai disapu angin ribut, baginya sudah nama untung. Kalau tidak orang tua yang umurnya sudah banyak, entah bakal aku apakan dia!”. 

“Silakan Pak Bei meneruskan umpatan Bapak”. Kata Semar “Eeeh kamu ngomongin bapakmu dihadapanku, nyerocos, banyak banyak kata-katamu he”.

“Tolee, Jangkrik Genggong . . . . “ Kembali Semar memanggil anaknya, Bagong, pura-pura salah panggil
“Yang mana lagi ini yang dipanggil?” Petruk juga pura-pura tanya.

“Nggak tau ya, siapa yang dipanggil. Jangan jangan dia punya anak lagi selain kita. Diam-diam rama Semar itu juga suka slundap-slundup begitu. Kelihatannya nggak, tapi nggak taunya iya. Lha emang dianya sudah tua. Lah lain lagi kalau seperti kamu, Kang Gareng, yang masih muda, enggak agak iya dan kalau iya jadinya agak seperti tidak. Makanya mudah ketauan”.

“Genggong . . “.

Apa Ma? “Weton” kamu dulu apa ta Ma?” tanya Bagong yang mau tidak mau memutuskan untuk menjawab.
“Eeeh . . . .  ada apa anak ini pake tanya tanya?”

“Aku mencari tau hari lahirmu, aku mau santet kamu Ma. Orang memberi nama Bagong kok terus jadi jangkrik genggong. Itu kan namanya sampean itu tidak menghargai suaramu sendiri”.

“Lho namamu siapa sebenarnya?” tanya Semar.

“Namaku Bagong . .”

“Aku panggil jangkrik genggong kok kamu nyahut? Kamu “galak lidah” ya? Kamu mau tau urusan orang, selalu iri dengki, kalau sesuatu yang lain, seharusnya disarung lebih dulu”. 

“Disaring, bukan disarung . . . “ Jelas Petruk menyela.

“Aku tidak memanggil dia kok dia main nyaut saja.”

“Ya sudah kalau nggak manggil aku ya nggak apa-apa. Tapi aku kan sampeyan yang bawa, iya kan? Setelah sampeyan nggak bisa menyesuaikan diri kok aku disia-sia?!” jawab Bagong yang kemudian diam.
“Aku heran Thole”. Semar mulai mengalihkan pembicaraan.

“Heran yang bagaimana?” Petruk yang masih sabar, menjawab

Berkali kali kalau mengikut bambangan (satria turun gunung) kok susah dimengerti. Oh mbok dadung manuk (tali penjerat burung;[kala]), kala-kala Bambangan harusnya hatinya gembira. Sebutan raksasa; [kala], kala-kala harusnya membuat hati gembira. Ketonggeng kecil; (dapat dari kata [kala]); kala-kala harusnya kita mengikut bambangan memjadikan kita gembira, nggak harus selalu mengerinyitkan dahi”. Semar menjelaskan dengan wangsalan.

Lalu kemudian melanjutkan. “Aku sampai kisruh bolehnya mengira-ira. Menafsirkan orang diam itu malah sulit. Diam karena memang wataknya atau diam karena susah. Apa juga diam karena marah, sampai susah aku menduga duga”.

Keluh Semar nyerempet ke Gareng “Beda dengan diamnya Gareng, Cuma ada dua sebab, kalau nggak sedih ya cari kesempatan. Itulah bedanya dengan momongan kita, Permadi”. Kembali Gareng yang temperamental hendak marah tapi ditahan Petruk.

Setelah reda Gareng malah menyahut “Sudahlah Ma, yang sudah-sudah ya jangan diulangi lagi. Yang penting, dulu kita sudah sanggup mencari adanya Dewi Erawati, yang sudah dicuri oleh “duratmuka”.
“Apa itu?” Tanya Petruk.

“Duratmuka itu bukannya nama lain dari pencuri?” balik Gareng nanya.

“Reng, sebetulnya kamu ngerti sastra apa enggak sih? Duratmaka kok kamu bilang duratmuka ?!”. kembali Petruk memberi penjelasan”.

“Ooh pantesan aku pernah diketawain orang tuh, aku pernah ndongeng dihadapan orang sependapa, aku bilang begini: Para hadirin, yang namanya Bethari Nagagini itu sebenarnya bidadari. Tetapi kalau sedang triwikrama dia bisa menjadi “sardula”. Aku kira sardula itu artinya ular, nggak taunya sardula itu berartimacan. Maka aku ditertawakan orang banyak. Nggak taunya menerapkan kata sastra itu tidak gampang, ya Truk. Pakai tata bahasa dan pakai tata cara”. Gareng pasrah

“Ya iya lah”. Petruk menjelaskan “Saya terima dengan tangan saya dwi, itu juga tidak boleh. Aku terima dengan kedua tangan, harusnya begitu”. 

“Ada lagi yang menertawai aku sampai tertawa ngakak, sewaktu aku menggambarkan diri aku sendiri”.Gareng kembali mengisahkan ketika ia salah menggunakan sastra.

“Yang macam mana?”

Para hadirin, kalau saya berdandan seperti ini, saya kelihatan seperti layaknya seorang  “rajakaya” . nah disini orang orang pada ketawa semua.” 

“Yang kamu maksud itu apa?”

“Rajakaya menurutku raja yang kaya.” Gareng menjelaskan kesalahannya

“Bukan! Rajakaya artinya kerbau sapi kambing dan binatang ternak sejenisnya.” 

Bagong yang dari tadi diam, ikut menyela, “Ini pada ribut masalah pribadi apa merembuk kita ikut orang? Kamu itu digaji” . Petruk dan Gareng yang sedari tadi ribut kini terdiam.

Suasana yang menjadi sepi membuat Semar membuka mulut. Ia menyanyikan pupuh Dhandanggula dengan laras pelog. Tangannya mengipas kipaskan daun waru, walau udara sebenarnya sejuk.

Kawruhana, sajatining urip
Manungsa ‘ku urip aneng donya
Prasasat mung mampir ngombe,
Upama peksi mabur, oncat saking kurunganeki,
Pundi pencokan mbenjang, ywa kongsi kaliru
Upama wong lunga sanja, jan sinanjan tan wurunga bakal mulih
Mulih mula mulanya.

Kurang lebih artinya:
Mengertilah, sesungguhnya
manusia hidup didunia itu
hanya seperti (orang) mampir minum
umpama burung terbang, lepas dari kurungannya
dimana ia bertengger nantinya,  janganlah sampai keliru.
umpama orang bepergian, bergaul, dan tidak urung pulang kembali,
pulang ke asal mulanya.

Demikian Semar mengakiri tembang Dhandhanggula, sambil tetap mengipas kipas badannya. Belum puas, satu bait lagi ditembangkannya masih dengan Dhandhanggula-nya

Angudhari (?) wasitaning ati
cumanthaka aniru pujangga
dhahat mudha ing batine
nanging kedah ginunggung
datan wruh yen akeh ngesemi
ameksa angrumpaka, basa kang kalantur
tutur kang katula tula, ginalaten winuruk kalawan ririh
mrih padhanging sasmita. . . .

(pupuh ini menyindir penulis yang berani beraninya menulis disini seperti layaknya seorang pujangga. Walau banyak yang hanya senyum melihat kecethekan tulisannya. Tapi saya pikir lebih baik bertindak daripada hanya diam. Dan saya butuh “ririhnya wuruk” atau “comment” membangun dari anda pembaca)
Demikian setelah Dhandhanggula selesai, menyusul langgam Setya Tuhu berkumandang
Aku kang setya satuhu/ wit biyen nganti saiki/ bebasane, peteng kepapag obor sumunar//
Andika pangayomanku/ lahir batin tuwuh nyata/ mung sajake andika semune kurang rena//
Tandha yekti paseksene, rikalane/ najan awrat. . . / mlampah tebih datan nesu/ (mugi lestari-a) . . .
Mugya_ antuk berkahing widi/ andika mung tansah limpad/ panyuwunku, setya kula, tansah anglam-lami//

Diriku yang benar-benar setia
dari dulu hingga kini
seupama dalam kegelapan, bertemu dengan sinaran obor

Dirimulah pengayomanku
lahir dan batin tumbuh menjadi nyata
tapi agaknya andika kurang berkenan.

Saksi akan tanda-tanda itu
walau seberat apapun
jalan sejauh apapun (aku) tidak marah

Semoga mendapat berkah dari tuhan
andika selalulah dapat mengatasi
Permintaanku, kesetiaanku akan selalu (engkau) kenang.

Terkantuk kantuk anak-anak Semar mendengarkan langgam yang demikian mencabut sukma.
Setelah dilihat anak-anaknya terlena oleh irama tadi, Semar menyapa Pamadi, “nDara Permadi, abdi paduka sudah menanti. Segera andika beri kami keterangan, ini mau kemana. Mau ke utara, keselatan atau tetap nongkrong disini saja? Bagaimana mau selesai pekerjaankita, kalau kita tetap diam seperti ini”.
Bagong yang berbaring-baring masih membuka mulut memberi masukan terhadap bapaknya “Itu salahmu Ma, yang nggak bisa memuaskan momongan kita. Maunya slendro kok dikasih pelog. Coba sekarang diberi slendro, setelah tadi kita suguhi pelog ternyata belum lega.”

Semar diam mencerna kata kata Bagong. Kemudian Semar buka mulut menembangkan Sinom Grandel.

Memanismu kang ngujiwat
agawe rujiting galih
‘rerepa kang sinedya
upama mundhuta rukmi,
Tartamtu tak turuti
ibarat wong numpak prau
lumampah tanpa welah
neng madyaning jalanidi,
temah gonjing anggenjong neng pagulingan.

[Catatan: Pupuh Sinom Grandhel ini sangat tenar untuk saat sekarang, dimana dhalang banyak yang bertindak selaku MC dan penyaji pilihan pendengar. Mereka, para dhalang, banyak yang meluangkan waktunya mengatur para tamu dan penonton yang hendak ikutan berpartisipasi unjuk kebolehan, hingga melantur dari cerita pagelaran yang sesungguhnya] ;)

Selesai Sinom Grandhel, “bawa” ini diteruskan dengan gending “Sapa Ngira”:

Sapa ngira/ bareng wus akhir diwasa// tandang tanduk solahe sarwa jatmika/ welingku aja kemba/ anggonmu darbe prasetya/nandyan aku tan kengguh mulat  endahe/ya mung kowe katon ngawe awe/ sebab/ sapa ngira pinter ngadi sarirane/ sapa ngira- sapa ngira/ muga nindakna utama/ singkirana-singkirana/ panggoda kang tan prayoga//.

Pamadi yang merasa terhibur dengan tingkah para pemomongnya tersenyum, panggilnya kemudian,“Semar . . . . . . ”.

Terkaget, Semar menjawab tergesa-gesa, “Eee saya.  Ada yang hendak andika perintahkan?”

“Bingung rasa hati ini, yang sudah kadung sanggup memulangkan kanda Erawati ke Mandaraka. Tetapi kakang, sampai sekarang belum ada titik terang, dimana adanya kanda Herawati. Cara apa yang harus aku tempuh, bagaimana bila tidak ada keterangan. Apa nanti ada kejadian Pamadi mendapat malu”. Jelas Parmadi. Suasana hati yang gundah, telah menjadikannya buntu jalan pikirannya. Belum lagi kata kata serapah dari Surtikanti ketika menjelang berangkat, masih membebani benaknya.

Semar yang tahu betapa galau rasa hati momongannya, kemudian mencoba memberikan pencerahan.“Eeeeh . . . , Jangan sampai bicara begitu, sampeyan itu satriya tohjali-nya jagad. Bicara begitu boleh, ngresula juga boleh, tetapi harus mengutamakan rasa nelangsa. Nelangsa itu tidak berarti  mutung, tapi pasrah kepadaNya. Walau dalam tata lahir tetep menjalankan tugas, tapi dalam batin juga disertai dengan tetap menjalankan perintah Tuhan. Sebab, orang yang hanya bekerja tetapi tidak ingat terhadap Tuhannya, tidak urung akan selalu menemukan kegelapan. Beda kalau dalam bekerja itu dibarengi dengan laku ‘ibadah. Selain menjadikannya terang jalan yang hendak dilalui, juga sejumlah hal yang ruwet akan bisa terurai. Berbagai hal yang ganjil gampang digenapi. Apalagi bila andika selalu ingat setiap pelajaran dari eyang andika di Saptaharga, Resi Abiyasa”

Permadi kemudian diam. Semar masih mencoba menaikkan kejiwaan momongannya. Sekarang ia melantunkan kembali “pada” (bait) tembang yang sekiranya bisa sebagai pancadan penggugah semangat.

Saben mendra saking wisma
lelana laladan sepi
ngisep sepuhing supana
mrih pana pranawa_ ing kapti
Tistis ing tyas marsudi
mardawaning budya tulus
mesu reh tyas kasubratan
neng tepining jalanidhi
sruning brata kataman wahyu dyatmika

“Yang tadi Itu mau saya artikan seperti ini:

Saben mendra saking wisma, setiap pergi dari rumah. Lelana laladan sepi; bepergian cari tempat yang sepi. Ngisep sepuhing supana; mencari kekuatan diri seperti halnya menyepuh emas. Mrih pana pranaweng kapti; supaya terang jelas dalam hati. Tistising tyas marsudi; sejuk dalam hati yang sebenarnya adalah mencari dimana adanya, Mardawaning budya tulus; mardawa artinya memperpanjang budi yang tulus.Dengan sarana mesu reh tyas kasubratan, artinya mau menjalankan tapa-brata. Neng tepining jalanidi;walau ditepi samudra sekalipunTetapi yang diartikan disini adalah; bukanlah gelarnya samudra itu sendiri. Tetapi sebenarnya adalah gelar cita cita. Alun dan ombak samudra yang tingginya segunung gunung itu, menjadi ukuran dari orang yang mempunyai cita-cita. Orang yang mempunyai cita-cita itu, gerak gelombang hatinya berdeburan seperti itu.

Tentramya hati bila sudah tercapai yang diidam idamkan. Sruning brata ketaman wahyu dyatmika. Sruning brata itu, ketika sedang berjuang mencapai cita, ketaman, artinya, mendapatkan wahyu, yang artinya ganjaran kebahagiaan, sedangkan dyatmika artinya ketenangan, tempat kesentausaan yang langgeng.

Andika harusnya meniru laku orang orang tua andika dimasa lalu. Retaknya tembok dapat disaranani dengan melabur, rengatnya kayu bisa disopak. Tetapi retaknya kewibawaan, pelaburan atau penyopakan itu hanya bisa dilakukan dengan tapa-brata”.

“Kalau begitu kakang, aku tidak ingin segera pulang ke Mandaraka. Walaupun segawat apapun hutan didepan itu, aku akan tetap jalan kedalam-nya. Ayo kita segera melanjutkan perjalanan. Jangan jauh jauh dari tempat aku berdiri. Kalian hanya aku perbolehkan berjalan setidaknya satu jangkauan tangkai tombak jaraknya” Agaknya Pamadi berkenan dengan kata penyurung dari Semar. Maka kemudian diperintahkannya semua untuk bersiap kembali menempuh perjalanan.

Demikianlah, rombongan kecil itu kembali bergerak. Sekarang mereka masuk kedalam hutan, turun naik ke jurang yang curam, dengan duri duri yang lebat bergantungan. Tersuruk jalan mereka oleh sulur penjalin. Mereka tidak ada rasa takut  sedikitpun terhadap bahaya yang mungkin saja mengancam didalam hutan itu.

Makin ketengah Arjuna masuk kedalam hutan. Geger binatang hutan, mereka berlarian menjauh dari rombongan itu. Kalaupun mereka bisa berbicara, maka kita dapat mendengar suara mereka “ Heee teman semua, menyingkirlah kalian semua. Kita membaui ada diantara mereka yang menggunakan minyak Jayengkatong. Pastilah mereka bukan orang sembarangan. Masih keturunan dari orang terhormat. Jangan sampai tersenggol oleh mereka, walaupun kita hanya terpijak bayangannya, bakal terkena walatnya. Mari kita segera menyingkir . . . menyingkir . . . . “, demikian binatang itu segera menjauh dengan suara yang gemeretak dan segera lingkungan sekitarnya menjadi bersih dari para binatang hutan.

Terceritakan ketika itu ada serombongan abdi negara dari Tirtakadasar. Mereka yang membaui wanginya minyak Jayengkatong segera meloncat dari persembunyiannya. Sambil mematahkan kayu kayu dari dahan pohon, berisik gemeretak suaranya.

Pamadi yang dihadang tidak tinggal diam. Dengan ancaman dari para raksasa Tirtakadasar, Pamadi melawan seorang diri. Puluhan prajurit raksasa bukan lawan yang sepadan walau ia dikeroyok. Banyak yang mati oleh kesaktian Pamadi dan sebagian lain melarikan diri, ngeri oleh amuk Pamadi.

Tapi setelah segenap musuh yang telah banyak yang terbunuh dan yang masih sayang dengan jiwanya melarikan diri, tiba tiba terjadi keanehan. Pamadi tiba tiba berkeringat dingin, berleleran disekujut badan bagaikan anak sungai. Kepalanya tiba tiba merasa pening dan badannya menjadi begitu lemas. Seketika pingsan Raden Pamadi. Ternyata serapah Surtikanti telah menjadi kenyataan.




LihatTutupKomentar